Pembebasan Dua Penembak Laskar FP1: Mencari Keadilan di Balik Sesatnya Penegakan Hukum

OLEH: DIAN FITRIANI*

SETAHUN lebih yang lalu, atau tepatnya 7 Desember 2020 terjadi peristiwa berdarah, penembakan 6 Laskar FPI (Front Pembela Islam) oleh aparat di KM 50 di Tol Cikampek. Dalam peristiwa itu merenggut 6 korban jiwa yang seluruhnya merupakan anggota Laskar FPI.

Peristiwa tersebut terjadi ketika anggota Laskar FPI sedang mengawal HRS (Habib Rizieq Sihab). Di antara korban jiwa akibat peristiwa penembakan tersebut antara lain: Andi Oktiawan, Faiz Ahmad Syukur, Lutfi Hakim, Akhmad Sofyan, M Reza, dan M Suci Khadavi Poetra.

Dalam peristiwa penembakan tersebut, sejumlah keterangan dari berbagai pihak dinilai berbeda dan masing-masing memiliki pembelaan terhadap kedua belah pihak, baik pihak FPI yang diposisikan sebagai korban, ataupun Polri.

Dugaan yang mengiringi kasus ini pun menjadi dalih agar aparat tak menjadi tersangka kasus penembakan rakyat sipil. Tentu meski FPI dibubarkan, akan tetapi penembakan anggota Laskar FPI tak dapat dibenarkan.

Di antara dugaan yang beredar, antara lain adanya dugaan perlawanan dari pihak FPI yang hendak diperiksa sehingga mereka mengerahkan senjata untuk membekukan Laskar FPI yang akhirnya justru memakan korban jiwa. Dari dugaan tersebut pun mengakibatkan bergulir cukup lama proses hukum atas kasus tersebut dari pemeriksaan, penyidikan, hingga vonis hukum pelaku penembakan.

Setelah sekitar 1 tahun 3 bulan pascapenembakan, vonis hukum kepada kedua pelaku adalah bebas tanpa ada hukuman pidana apa pun. Hal ini termaktub dalam putusan hakim pada tanggal 18 Maret 2022.

Dalam putusan tersebut, memutuskan bahwa dua anggota Polda Metro Jaya, Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella divonis lepas terkait perkara penembakan laskar FPI di Km 50 Tol Cikampek. Bahkan kedua anggota polisi itu dipastikan akan segera kembali ditugaskan.

Pihak Polda Metro Jaya pun turut merespons vonis lepas yang diberikan hakim kepada kedua anggotanya. Zulpan meminta tiap pihak menghormati putusan pengadilan terkait vonis bebas dua anggota tersebut. Menurutnya, putusan tersebut menjadi penguat bahwa apa yang dilakukan anggota Polda Metro Jaya terkait insiden Km 50 masih dalam tahap sesuai prosedur.

You might also like

- Advertisement -